From Dili to Jakarta via Bali (1)

It was the last day of June 2013.

I was full of excitement as a teen.

Waiting for my Sriwijaya flight at the Nicolau Lobato Airport in Dili.

With a mind of a wanderer, I asked,  “Would this trip be a jolly?”.

Later the flight came and I went ahead in a tremble along the departure gate.

I got on the airplane; a beautiful air hostess with red dress greeted me.

She had the most beautiful smile of the day.

I showed her my boarding pass; she guided me to my seat.

DSCN0622 - Copy

I sat contently yet carefully paying attention instead.

Another air hostess was demonstrating the flight safety guide.

After an hour, the plane left the ground and started to take off. My heart jumped.

‘I am flying high!’ my mind exclaimed.

DSCN0636 - Copy

It was my first trip from Dili to Jakarta.

There is a short transit at Ngurah Rai airport of Denpasar in Bali.

That was also my first time to see Bali, although just at a glance.

DSCN0627

Down there, I saw Bali’s beautiful blue sea with the white cliffs.

The red-brown houses formed like beads.

They spread over a huge green carpet of its green field.

DSCN0632 - Copy

A very long bridge shaped a curvy line over the sea.

How I wondered to explore those places one day.

“Oh, how wonderful isn’t it?” myself said.

DSCN0633 - Copy

I had heard about Bali since I was a child in 1990s.

People said that Bali is an island of gods, a paradise for tourists.

That time, I wish that one day I too could visit Bali, as a tourist.

I wanted to see the gods. I wanted to enjoy being at its paradise.

Finally, my wish did come true. Even though only for an instance.

Vitalia Ze, Dili-Bali-Jakarta, 30 June 2013.
Advertisements

My First Lunch in Jakarta

DSCN2143

It was a hot day in Jakarta

I was enjoying my first lunch

A plate of soft white rice

Accompanied with fried tofu, fried tempe* and an appetite-teasing brown fried chicken

The delicious jackfruit Gudeg* in a glossy redness to me

Together they greeted me with their special aromas

That was my first lunch in Jakarta

“Happy Eating…’

VZ, Jakarta, July 2013
*Tempe = A specific Indonesian food made from boiled soybeans and fermented then become a    soybean bars.
** Gudeg = An Indonesian-specific red curry dish made using jackfruit and is typical of popular food from  Yogyakarta, Indonesia.

Siapakah Wanita Bagimu?

6359946854879439121166629593_Mind Hurt3

https://www.theodysseyonline.com/ways-hurt-ourselves

(Puisi terjemahan Tetum-English ‘Se Mak feto ba O?’ Dedikasi untuk Hari Wanita Internasional  March 8)

I

Ketika dia berjalan menyusuri jalanan

Matamu memandangnya bernafsu, kau bersiul dan panggil dia ‘Cantik!’

Ketika dia tak menoleh, kau bilang dia ‘sombong’

Jika dia menoleh, kaupun membisu seketika.

Bagai tangan yang sembunyi habis melempar batu

Bila kau ingin memujanya, muliakanlah dia dengan  hormat.

II

Kau panggil dia ‘kekasih’, kau bawa dia ke pantai

Kau janjikan mimpi hari esok tuk menangkan percayanya.

Dalam manisnya kata, kau minta dia serahkan diri, seluruhnya untukmu.

Tapi bukanlah ini yang dia cari.

Dia butuh tangamu, untuk mendorongnya hadapi misteri hari esok

Tunjukkan padanya, bagaimana agar tak menyerah mengejar mimpi?

III

Kau panggil dia ‘putri’ dari darah dagingmu sendiri

Namun cintamu lebih besar untuk sang putra saja.

Kau ajari dia, bahwa takdirnya adalah melayani

Kau hargakan kemudaannya dengan harta benda duniawi.

Pada akhirnya, dia sendiri yang menanggung semua beban

Oleh sebab seorang yang tak hargai dia dengan janji cinta sejati.

IV

Kau panggil dia ’istri’, patutlah ia takut dan layani kau sampai mati.

Kaulah pemiliknya, sebab mahar telah diserahkan

Padahal maharmu tak lebih berharga dari jiwanya, jiwa yang lebih indah dari segalanya.

Dia temani kau sepanjang hidup, dengan tubuh, hati dan jiwanya

Dengan keyakinan, harapan dan keteguhannya.

Walau sering kau lempar dan tampar dia, dengan takutmu dan amarahmu sendiri

Dengan tangan dan kata-kata tajam kau lukai tubuh dan jiwanya

Lalu kau biarkan dia sembuhkan diri sendirian

Mengapa tidak kau jaga dia seperti pohon menaungi bunga?

V

Siapakah wanita bagimu?

Sudahkah  kau coba pahami dia dalam pikiran dan perasaanmu?

Apa saja yang kau temukan? Tanyalah!

 

VZ, Dili, 4 Maret 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Indahnya Belajar Bersama

crayons-pic

Puisi terjemahan Tetum-Indonesia ‘Kmanek Aprende Hamutuk’

Kutemukan hal baru dari orang lain
Kutemukan juga
Bahwa ada banyak hal yang aku belum tahu
Banyak hal yang aku perlu tahu
Banyak hal yang aku tidak tahu

Tetapi aku ingin tahu

Apa yang aku belum tahu
Aku ingin tahu
Apa yang aku perlu tahu
Aku ingin tahu
Apa yang aku belum tahu

Bersama dalam keingintahuan
Mari kita bersama
Merenangi dan selami lautan pengetahuan
Yang  tiada bertepi pada perasaan
Yang tak terbatasi oleh waktu dan ruang
Yang mekar dan tumbuh dalam inspirasi
Luas dan berlimpah dalam imajinasi

Mari kita temukan bersama
Keindahan yang berlimpah
Lalu bersyukur
Bahwa hidup ini akan jadi indah
Ketika kita satukan tangan dan hati kita

Untuk belajar bersama.

VZ, Dili, 01 Maret 2016